berita PAKKI
https://pakki.org/storage/artikel/885-Cover LSP (23).jpg

Sumur Bor Warga di Aceh Utara Semburkan Gas dan Api Setinggi 75 Meter

Warga Desa Blang Rubek, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, digegerkan dengan munculnya semburan gas, lumpur, dan koba...

25 Mei 2026 | Konten ini diproduksi oleh A2K4

Warga Desa Blang Rubek, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, digegerkan dengan munculnya semburan gas, lumpur, dan kobaran api dari lokasi pengeboran sumur bor milik warga di area perkebunan sawit. Insiden tersebut terjadi pada Sabtu dini hari dan sempat membuat masyarakat sekitar panik.

Peristiwa bermula saat proses pengeboran sumur air yang dilakukan untuk kebutuhan pengairan sawah memasuki kedalaman sekitar 90 meter. Sekitar pukul 02.00 WIB, warga mendengar suara dentuman keras sebelum akhirnya muncul semburan lumpur bercampur gas dari lubang bor yang kemudian memicu kobaran api besar.

Kobaran api dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 75 meter dan dapat terlihat dari jarak cukup jauh. Warga yang berada di sekitar lokasi langsung berhamburan keluar rumah untuk menghindari kemungkinan ledakan maupun kebakaran yang lebih besar.

Pihak kepolisian bersama instansi terkait segera turun ke lokasi untuk melakukan pengamanan. Garis polisi dipasang di sekitar area kejadian guna mencegah masyarakat mendekat karena dikhawatirkan masih terdapat kandungan gas yang dapat memicu bahaya susulan.

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyatakan bahwa kejadian tersebut bukan berasal dari aktivitas sumur maupun kebocoran pipa milik PT Pema Global Energi (PGE). Setelah menerima laporan dari masyarakat, BPMA langsung melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan sumber semburan tersebut.

BPMA juga meminta tim teknis melakukan pengecekan di lapangan menggunakan alat ukur guna mengetahui apakah masih terdapat gas yang keluar dari lokasi pengeboran. Selain itu, pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi api benar-benar telah padam dan area aman dari potensi semburan lanjutan.

Dugaan sementara, semburan gas berasal dari kantong gas bawah tanah atau jalur pipa lama yang terkena aktivitas pengeboran. Gas yang keluar kemudian bercampur dengan lumpur sebelum akhirnya terbakar dan menghasilkan kobaran api besar.

Akibat kejadian tersebut, beberapa rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat dampak panas dan kobaran api. Puluhan warga juga terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat demi alasan keselamatan.

Meski sempat menimbulkan kepanikan, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini. Aparat dan pihak terkait masih terus melakukan pemantauan di lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gas susulan.


Perspektif K3

Dari sudut pandang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), kejadian ini menunjukkan pentingnya identifikasi risiko sebelum aktivitas pengeboran dilakukan, terutama di wilayah yang memiliki riwayat aktivitas migas atau jalur pipa bawah tanah.

Pengeboran sumur dalam tanpa pemetaan potensi gas bawah tanah dapat meningkatkan risiko terjadinya semburan gas, ledakan, hingga kebakaran. Karena itu, proses pengeboran idealnya diawali dengan survei teknis dan koordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan kondisi area aman.

Selain itu, penggunaan standar operasional prosedur (SOP), alat pengaman kerja, serta sistem mitigasi darurat menjadi hal penting untuk meminimalkan dampak apabila terjadi insiden serupa.

Dalam dunia industri migas, kejadian seperti ini dikenal memiliki karakteristik menyerupai well blowout ringan non-industri, yaitu kondisi ketika tekanan gas dari bawah tanah keluar secara tidak terkendali akibat aktivitas pengeboran.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa proyek pengeboran masyarakat tetap memerlukan pengawasan teknis dan aspek keselamatan yang memadai agar tidak membahayakan pekerja maupun warga sekitar.