Dalam banyak organisasi, biaya risiko K3 sering kali dipahami secara parsial: klaim asuransi, biaya pengobatan, atau denda regulator. Padahal, angka-angka tersebut hanya sebagian kecil dari true cost yang ditanggung perusahaan. Di sinilah konsep Total Cost of Risk (TCOR) menjadi krusial—bukan hanya untuk pengambilan keputusan, tetapi juga untuk kebutuhan audit, manajemen risiko, dan justifikasi investasi K3.
Artikel ini membahas pendekatan teknis membangun model TCOR yang audit-ready, mencakup struktur kategori biaya, mekanisme pengumpulan data lintas departemen, serta metode estimasi konservatif untuk biaya tidak langsung yang sering luput dari pencatatan formal.
Secara operasional, TCOR adalah total biaya yang dikeluarkan organisasi akibat eksposur risiko, baik yang sudah terjadi (loss) maupun biaya pencegahannya. Dalam konteks K3, TCOR tidak hanya mencerminkan kecelakaan kerja, tetapi juga ketidakpatuhan, gangguan operasional, dan risiko reputasi.
Model TCOR yang baik harus:
Agar audit-ready, kategori TCOR perlu disusun secara mutually exclusive dan collectively exhaustive (MECE). Praktik umum yang defensible adalah membagi TCOR menjadi empat kelompok utama berikut.
Biaya yang secara langsung muncul akibat insiden K3 dan mudah ditelusuri ke dokumen keuangan.
Contoh:
Karakteristik audit:
Biaya yang timbul sebagai dampak lanjutan insiden, tetapi tidak tercatat secara eksplisit sebagai “biaya kecelakaan”.
Contoh umum:
Catatan penting: biaya ini sering kali lebih besar dari direct cost, namun jarang dihitung secara sistematis.
Biaya yang berkaitan dengan mekanisme pembiayaan risiko.
Komponen utama:
Untuk audit-ready TCOR, penting memisahkan:
Biaya yang muncul akibat kewajiban regulasi atau sanksi.
Contoh:
Kategori ini sering tersebar di berbagai cost center, sehingga perlu pemetaan lintas fungsi.
Kesalahan umum dalam penyusunan TCOR adalah mengandalkan satu departemen (biasanya K3 atau HR). TCOR yang solid harus dibangun dari multiple data owner.
Berikut pendekatan praktisnya.
DepartemenData yang RelevanK3 / HSEData insiden, investigasi, corrective actionHRAbsensi, turnover, kompensasi, jam kerja hilangFinanceInvoice, cost center, klaim, cadangan biayaOperasionalDowntime, loss output, reworkLegal / ComplianceDenda, biaya hukum, hasil auditProcurementPremi asuransi, vendor medis
Langkah kunci: sepakati definisi data di awal agar tidak terjadi perbedaan interpretasi saat audit.
TCOR yang baik bukan soal angka paling besar, tetapi angka yang paling bisa dipertanggungjawabkan.
Contoh template sederhana yang sering dipakai untuk tahap awal:
A. Direct Cost
B. Indirect Cost
C. Insurance Cost
D. Regulatory & Compliance
Template ini bisa dikembangkan sesuai kompleksitas industri.
Karena indirect cost jarang tercatat, pendekatan konservatif dan konsisten sangat penting agar tidak dianggap spekulatif saat audit.
Beberapa metode yang umum digunakan:
Pendekatan klasik menggunakan rasio terhadap direct cost.
Contoh konservatif:
Catatan: hindari multiplier agresif kecuali ada data historis internal.
Menghitung waktu yang terbuang dikalikan biaya tenaga kerja.
Contoh:
Metode ini relatif kuat secara audit karena berbasis data waktu.
Jika organisasi memiliki data insiden sebelumnya:
Auditor cenderung menerima pendekatan ini karena berbasis data internal.
Gunakan asumsi nilai minimum yang masih rasional.
Prinsipnya:
“Lebih baik under-estimate secara defensible daripada over-estimate yang sulit dibuktikan.”
TCOR yang audit-ready seharusnya tidak berhenti di laporan tahunan. Model ini idealnya digunakan untuk:
Saat TCOR disajikan dengan struktur yang jelas dan asumsi yang transparan, fungsi K3 bergeser dari cost center menjadi risk value driver.
Membangun TCOR yang audit-ready bukan soal kompleksitas model, melainkan disiplin metodologi dan integritas data. Dengan struktur kategori yang jelas, kolaborasi lintas departemen, dan estimasi konservatif untuk biaya tidak langsung, praktisi K3 dapat menyajikan gambaran biaya risiko yang lebih utuh, kredibel, dan relevan bagi pengambil keputusan.