Di level manajemen menengah hingga puncak, diskusi tentang K3 tidak lagi berhenti pada kepatuhan regulasi atau slogan “zero accident”. Bagi CFO dan jajaran finance, pertanyaan utamanya selalu sama: apa dampak finansial dari anggaran safety yang diajukan, dan bagaimana kontribusinya terhadap keberlanjutan bisnis?
Di sinilah peran HSE Manager diuji. Bukan hanya sebagai penjaga keselamatan, tetapi sebagai penjaga nilai bisnis. Safety budgeting yang matang harus mampu menjembatani bahasa teknis K3 dengan logika finansial yang rasional, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Artikel ini membahas kerangka safety budgeting yang dapat digunakan HSE Manager untuk mengajukan anggaran ke CFO, dengan fokus pada ROI yang diakui oleh finance.
Masalah utama safety budgeting bukan pada nilainya, melainkan pada cara penyampaiannya. Banyak proposal K3 masih disusun dengan pendekatan:
Sementara CFO berpikir dalam kerangka berbeda:
Akibatnya, safety sering dipersepsikan sebagai cost center, bukan sebagai value protector.
Agar safety budgeting diterima di level CFO, pendekatannya harus disusun dalam tiga kerangka ROI utama berikut.
Setiap kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, atau near miss yang berujung pembatasan kerja secara langsung mengurangi jam kerja produktif. Dalam sudut pandang finance, jam kerja produktif adalah aset yang menghasilkan nilai.
Ketika HSE mampu menunjukkan bahwa sebuah program safety:
maka sebenarnya HSE sedang melindungi output produksi, bukan sekadar menurunkan angka kecelakaan.
Pendekatan ini jauh lebih relevan bagi CFO dibanding sekadar laporan penurunan LTIFR.
Insiden besar hampir selalu berdampak sistemik. Bukan hanya korban, tetapi juga:
Dalam bahasa finance, setiap jam downtime berarti hilangnya contribution margin. Oleh karena itu, safety dipandang sebagai penjaga kelangsungan operasi, terutama pada area berisiko tinggi seperti proses produksi, maintenance, logistik, dan pekerjaan berenergi tinggi.
Bagi CFO, argumen yang kuat bukan “mencegah kecelakaan”, tetapi “mencegah downtime bernilai miliaran”.
Biaya kecelakaan tidak berhenti pada biaya medis atau kompensasi. Dampak lanjutannya sering kali jauh lebih besar, antara lain:
Pendekatan risk-based membantu HSE Manager menunjukkan bahwa investasi safety menurunkan expected loss perusahaan, bukan hanya biaya langsung yang terlihat.
Agar proposal safety kuat secara finansial, HSE Manager perlu menggunakan pendekatan monetisasi yang umum dipakai di finance.
Contribution margin per jam dapat dijelaskan sebagai pendapatan per jam dikurangi biaya variabel per jam. Ketika terjadi downtime, nilai yang hilang bukan total revenue, tetapi margin kontribusi tersebut.
Jika sebuah program safety mampu mencegah beberapa jam shutdown dalam setahun, nilai finansialnya dapat dikaitkan langsung dengan margin yang terselamatkan.
Pendekatan ini sangat efektif untuk menjelaskan nilai safety pada operasi produksi, utility, dan proses kritikal.
Kesalahan umum HSE adalah hanya menggunakan gaji pokok saat menghitung kerugian jam kerja. Finance menggunakan pendekatan yang lebih realistis, yaitu loaded labor rate.
Loaded labor rate mencakup gaji, tunjangan, BPJS, asuransi, serta overhead HR yang dibagi dengan jam kerja tahunan. Dengan pendekatan ini, jam kerja yang hilang akibat kecelakaan dapat dikonversi menjadi nilai finansial yang valid dan dapat diterima oleh CFO.
Untuk risiko dengan dampak besar namun frekuensi rendah, seperti ledakan, kebakaran besar, atau confined space fatality, pendekatan probabilitas dan dampak sangat relevan.
Expected loss dihitung dari kemungkinan kejadian dikalikan dengan dampak finansialnya. Jika sebuah program safety menurunkan probabilitas atau dampaknya, selisih expected loss sebelum dan sesudah program itulah nilai bisnis yang dilindungi.
Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan HSE dalam berpikir strategis, bukan sekadar reaktif.
Salah satu penyebab utama proposal safety diragukan oleh CFO adalah double counting atau penghitungan manfaat ganda dari dampak yang sama.
Contoh kesalahan yang sering terjadi:
Prinsip aman dalam safety budgeting adalah:
Bagi finance, angka yang masuk akal dan defensible jauh lebih bernilai dibanding estimasi besar yang sulit dipercaya.
Berikut struktur ringkas yang efektif untuk disampaikan ke CFO atau Direksi.
Gambarkan risiko utama, dampak bisnis jika tidak ditangani, solusi safety yang diusulkan, serta nilai bisnis yang dilindungi.
Jelaskan jenis risiko, area terdampak, potensi gangguan operasi, serta estimasi kerugian tahunan tanpa intervensi.
Uraikan program yang diusulkan, biaya yang dibutuhkan (CAPEX atau OPEX), serta waktu implementasi.
Tampilkan estimasi konservatif dari:
Fokus pada nilai tahunan yang dilindungi.
Cantumkan total biaya, nilai tahunan, estimasi payback period, dan asumsi kunci yang digunakan.
HSE Manager yang matang tidak lagi berjuang untuk membuktikan bahwa safety itu penting. Fokusnya adalah membuktikan bahwa safety melindungi nilai bisnis yang nyata.
Ketika safety budgeting disusun dengan kerangka ROI, risiko, dan kontinuitas operasi, diskusi dengan CFO tidak lagi bersifat defensif. Safety berubah dari sekadar kewajiban menjadi strategi perlindungan profit, operasional, dan reputasi perusahaan.
Dan pada titik itulah, peran HSE benar-benar diakui sebagai bagian dari pengambil keputusan strategis.