berita PAKKI
https://pakki.org/storage/artikel/139-Cover LSP (24).jpg

Mengungkap Akar Kecelakaan Kerja dengan Metode HFACS

Dalam banyak kasus kecelakaan kerja, penyebab sering kali disederhanakan hanya pada satu faktor, seperti “human error” atau “...

14 Januari 2026 | Konten ini diproduksi oleh A2K4

Dalam banyak kasus kecelakaan kerja, penyebab sering kali disederhanakan hanya pada satu faktor, seperti “human error” atau “kelalaian pekerja”. Padahal, kecelakaan hampir selalu merupakan hasil dari rangkaian masalah sistemik yang saling berkaitan, mulai dari kebijakan perusahaan, budaya kerja, hingga kondisi lapangan. Untuk melihat akar masalah secara lebih menyeluruh, digunakanlah metode HFACS (Human Factors Analysis and Classification System).

HFACS adalah sistem analisis yang dikembangkan dari model Swiss Cheese James Reason dan digunakan secara luas dalam dunia penerbangan, militer, manufaktur, hingga konstruksi. Metode ini membantu tim K3 mengidentifikasi faktor manusia secara sistematis, sehingga pencegahan dapat difokuskan pada perbaikan sistem, bukan sekadar menyalahkan individu.


Mengenal Struktur HFACS

HFACS membagi penyebab kecelakaan ke dalam empat tingkat utama:

  1. Unsafe Acts (Tindakan Tidak Aman)
  2. Kesalahan langsung yang dilakukan pekerja di lapangan, baik berupa kesalahan tindakan maupun pelanggaran prosedur.
  3. Preconditions for Unsafe Acts (Kondisi Pendukung Tindakan Tidak Aman)
  4. Faktor yang memengaruhi kondisi pekerja, seperti kelelahan, tekanan kerja, lingkungan berbahaya, atau kurangnya alat pelindung diri.
  5. Unsafe Supervision (Pengawasan Tidak Aman)
  6. Kelemahan pada level supervisor, misalnya kurangnya pengawasan, penjadwalan kerja berlebihan, atau pembiaran pelanggaran SOP.
  7. Organizational Influences (Pengaruh Organisasi)
  8. Kebijakan, budaya, sistem manajemen, dan alokasi sumber daya yang secara tidak langsung mendorong terjadinya kondisi berbahaya.

Dengan struktur ini, HFACS membantu investigasi menelusuri kecelakaan dari “apa yang terjadi di lapangan” hingga “apa yang salah dalam sistem organisasi”.


Contoh Kasus Nyata di Lapangan

Sebuah proyek konstruksi mengalami kecelakaan fatal ketika seorang pekerja terjatuh dari ketinggian 12 meter saat melakukan pemasangan bekisting lantai atas. Pekerja tersebut tidak menggunakan full body harness, dan tidak ada lifeline yang terpasang di area kerja.

Secara kasat mata, penyebabnya tampak jelas: pekerja tidak menggunakan APD dan terjatuh. Namun, ketika dianalisis menggunakan HFACS, ditemukan rangkaian masalah yang jauh lebih kompleks.

1. Unsafe Acts

Pekerja melakukan pekerjaan di ketinggian tanpa menggunakan full body harness dan tidak mengaitkan diri pada sistem pengaman.

2. Preconditions for Unsafe Acts

Lingkungan kerja tidak menyediakan lifeline permanen. Selain itu, pekerja sudah bekerja lebih dari 11 jam dan mengalami kelelahan. Area kerja juga sempit dan licin akibat sisa adukan beton.

3. Unsafe Supervision

Supervisor lapangan mengetahui bahwa lifeline belum terpasang, tetapi tetap mengizinkan pekerjaan berjalan karena target proyek yang ketat. Tidak ada inspeksi APD sebelum pekerjaan dimulai.

4. Organizational Influences

Perusahaan memiliki kebijakan percepatan proyek untuk mengejar denda keterlambatan, namun tidak menambah jumlah tenaga kerja atau menyediakan sistem proteksi jatuh yang memadai. Anggaran K3 juga ditekan sehingga pengadaan lifeline dan pelatihan kerja di ketinggian belum dilakukan secara menyeluruh.

Dari analisis ini terlihat bahwa kecelakaan bukan sekadar kesalahan pekerja, melainkan akibat dari sistem kerja yang mendorong terjadinya kondisi berbahaya.

Manfaat HFACS dalam Program K3

Penerapan HFACS memberikan beberapa manfaat penting bagi perusahaan, antara lain:

  • Membantu menemukan akar masalah yang sebenarnya, bukan hanya gejala di permukaan
  • Menghindari budaya “menyalahkan korban”
  • Menjadi dasar perbaikan kebijakan dan sistem kerja
  • Membantu menyusun program pencegahan kecelakaan yang lebih tepat sasaran
  • Meningkatkan budaya keselamatan secara menyeluruh

HFACS juga sangat efektif digunakan sebagai bahan evaluasi setelah insiden maupun near miss, sehingga potensi kecelakaan berikutnya dapat ditekan.


HFACS mengajarkan bahwa kecelakaan kerja bukan peristiwa tunggal, melainkan hasil dari serangkaian kegagalan sistem. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat melihat kecelakaan secara lebih adil, objektif, dan solutif.

Bukan hanya “siapa yang salah”, tetapi “sistem apa yang harus diperbaiki”.

Dengan menerapkan HFACS secara konsisten, program K3 tidak hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga pada pencegahan nyata yang melindungi nyawa dan masa depan para pekerja.