Di banyak proyek konstruksi dan industri, indikator keberhasilan program Working at Height (WAH) sering direduksi menjadi satu angka: zero fall. Tidak ada orang jatuh, berarti sistem dianggap bekerja. Secara moral memang melegakan. Tapi secara profesional, itu belum tentu menggambarkan kualitas kontrol yang sebenarnya.
Sebagai praktisi K3, saya melihat pendekatan seperti ini terlalu reaktif. Zero fall adalah lagging indicator—ia bicara tentang apa yang sudah terjadi (atau belum terjadi). Program WAH yang matang justru diukur dari seberapa kuat kontrolnya sebelum insiden muncul.
WAH bukan soal “tidak ada yang jatuh”. WAH adalah soal bagaimana risiko jatuh dikelola secara sistematis, terukur, dan dapat diaudit.
Mari kita bahas fondasinya.
WAH yang kuat selalu berdiri di atas hierarchy of controls
Prinsip hierarchy of controls dari Occupational Safety and Health Administration maupun National Institute for Occupational Safety and Health menegaskan bahwa APD adalah lapisan terakhir, bukan solusi utama.
Dalam konteks WAH, urutannya harus jelas:
Elimination
Apakah pekerjaan di ketinggian bisa dihilangkan? Prefabrikasi di ground level, penggunaan sistem modular, atau redesign struktur sering kali lebih efektif daripada sekadar menambah lifeline.
Substitution
Mengganti metode kerja berisiko tinggi dengan metode yang lebih aman. Misalnya, penggunaan MEWP (Mobile Elevating Work Platform) dibandingkan scaffolding improvisasi.
Engineering Controls
Guardrail permanen, platform kerja dengan toe board, fixed ladder dengan cage, horizontal lifeline yang terpasang sesuai desain teknik. Di tahap ini, sistem proteksi harus dirancang, bukan sekadar dipasang.
Administrative Controls
Permit to work, Job Safety Analysis, pembatasan akses, rotasi kerja untuk mencegah fatigue.
Personal Protective Equipment (PPE)
Full body harness, lanyard dengan shock absorber, SRL (Self-Retracting Lifeline). Ini penting, tapi tetap lapisan terakhir.
Jika program WAH terlalu cepat lompat ke “pakai harness ya”, biasanya ada yang terlewat di layer sebelumnya.
Anchor point: titik kecil dengan konsekuensi besar
Banyak perusahaan punya harness berkualitas, tapi anchor point-nya tidak pernah dihitung secara struktural. Ini celah klasik.
Anchor point bukan sekadar “besi kuat”. Ia harus:
– Dirancang menahan beban dinamis jatuh (umumnya minimum 22 kN untuk satu orang sesuai standar internasional).
– Diuji dan disertifikasi oleh pihak kompeten.
– Diberi label identifikasi dan traceable dalam sistem inspeksi.
Jika anchor tidak terdokumentasi, tidak dihitung, dan tidak ada sertifikasi, maka seluruh sistem fall protection menjadi asumsi.
Di sini kualitas kontrol diuji. Apakah anchor point masuk dalam register aset? Apakah ada jadwal re-certification? Apakah perubahan struktur bangunan memengaruhi integritasnya?
Rescue plan: bagian yang paling sering diabaikan
Ironisnya, banyak program WAH berhenti pada “cara mencegah jatuh”, tapi tidak detail pada “apa yang terjadi jika seseorang tergantung di harness”.
Suspension trauma bisa terjadi dalam hitungan menit. Tanpa rescue plan yang spesifik lokasi dan realistis, korban bisa selamat dari jatuh, tetapi mengalami komplikasi serius karena keterlambatan evakuasi.
Rescue plan yang kuat minimal mencakup:
– Identifikasi metode rescue (self-rescue, assisted rescue, atau mechanical rescue).
– Daftar peralatan rescue yang tersedia di lokasi.
– Tim rescue yang terlatih dan terjadwal.
– Waktu respons target yang terukur.
Rescue plan bukan dokumen template. Ia harus diuji lewat drill.
Mengukur leading indicator dalam program WAH
Di sinilah kualitas program benar-benar terlihat. Leading indicator berbicara tentang pencegahan, kesiapan, dan kepatuhan sebelum insiden terjadi.
Beberapa indikator yang menurut saya paling relevan:
Indikatornya bisa berupa:
– Persentase harness dengan tag inspeksi valid.
– Jumlah temuan defect per 100 unit.
– Waktu rata-rata penggantian harness rusak.
Jika defect sering ditemukan tapi tidak ada tren penurunan, berarti ada masalah pada penyimpanan, penggunaan, atau kualitas vendor.
Leading indicator-nya bisa berupa:
– Persentase anchor yang masuk database resmi.
– Jumlah anchor dengan sertifikat aktif dibanding total anchor terpasang.
– Frekuensi inspeksi ulang per tahun.
Jika coverage belum 100%, program WAH belum bisa dikatakan matang.
Ukurannya bisa berupa:
– Frekuensi drill per proyek per tahun.
– Waktu evakuasi rata-rata saat simulasi.
– Jumlah personel yang lulus evaluasi kompetensi rescue.
Drill yang hanya formalitas tanpa evaluasi waktu respons tidak memberikan data yang bisa ditingkatkan.
Dari zero fall ke zero complacency
Zero fall tetap penting sebagai target moral. Namun, profesional K3 perlu naik level: dari sekadar menghitung insiden menjadi mengukur kualitas sistem.
Program WAH yang kuat ditandai oleh:
– Desain kontrol berbasis hierarchy of controls.
– Anchor point yang terverifikasi secara teknik.
– Rescue plan yang teruji, bukan hanya terdokumentasi.
– Leading indicator yang dipantau secara rutin dan dianalisis trennya.
Dalam praktiknya, perusahaan dengan budaya safety yang matang biasanya lebih fokus pada pertanyaan ini:
“Apakah sistem kita cukup kuat jika hari ini terjadi kegagalan?”
Karena dalam manajemen risiko, tidak ada sistem yang 100% kebal. Yang ada adalah sistem yang siap.
Dan di WAH, kesiapan itulah yang membedakan program biasa dengan program yang benar-benar melindungi nyawa.