berita PAKKI
https://pakki.org/storage/artikel/924-Cover LSP (2).jpg

Safety KPI yang Disukai COO: Leading vs Lagging Tanpa “Vanity Metrics”

Di banyak organisasi, laporan K3 terlihat impresif di atas kertas. Grafik hijau, target tercapai, angka frekuensi menurun. Ta...

04 Februari 2026 | Konten ini diproduksi oleh A2K4

Di banyak organisasi, laporan K3 terlihat impresif di atas kertas. Grafik hijau, target tercapai, angka frekuensi menurun. Tapi di ruang rapat eksekutif, pertanyaan COO biasanya sederhana dan tajam: “Apa dampaknya ke operasi dan biaya?”

Masalahnya bukan kurang data, melainkan salah memilih KPI. Terlalu banyak vanity metrics—angka yang terlihat bagus, namun lemah hubungannya dengan risiko aktual dan outcome bisnis. Artikel ini membahas bagaimana memilih KPI leading dan lagging yang benar-benar bermakna, serta bagaimana mengemasnya dalam dashboard yang relevan bagi COO.



Mengapa COO Tidak Puas dengan Laporan K3 Konvensional

Dari sudut pandang COO, keselamatan adalah bagian dari reliability operasi. Insiden berarti downtime, rework, investigasi, keterlambatan produksi, klaim asuransi, hingga reputasi yang terganggu.

Ketika laporan K3 hanya berisi:

  • LTIFR turun
  • Jumlah pelatihan meningkat
  • Ribuan safety observation tercatat

…tanpa menjelaskan apa artinya bagi risiko serius dan stabilitas operasi, laporan tersebut gagal menjawab kebutuhan pengambil keputusan.

COO tidak menolak keselamatan. Mereka menolak angka yang tidak bisa ditindaklanjuti.



Leading vs Lagging Indicator: Bukan Soal Banyak, Tapi Tepat

Secara konsep, perbedaan leading dan lagging sudah sering dibahas. Tantangannya adalah implementasi.

Lagging indicators mengukur hasil akhir:

  • Fatality
  • Lost Time Injury
  • Total Recordable Injury
  • Biaya insiden
  • Downtime akibat kecelakaan

Ini penting, tapi bersifat reaktif. COO melihatnya sebagai damage report.

Leading indicators seharusnya mengukur pengendalian risiko sebelum insiden terjadi. Namun di sinilah banyak organisasi terjebak vanity metrics.



Vanity Metrics yang Terlihat “Leading” Tapi Tidak Prediktif

Beberapa contoh yang sering ditemui:

  • Jumlah safety observation per bulan
  • Persentase kehadiran pelatihan
  • Jumlah audit yang dilakukan
  • Jumlah toolbox meeting

Masalahnya bukan pada aktivitasnya, tapi pada kualitas dan keterkaitannya dengan risiko kritis. Angka tinggi tidak otomatis berarti risiko turun.

COO akan bertanya: “Observation-nya tentang apa? Audit-nya menemukan apa? Risiko apa yang benar-benar dikurangi?”



KPI Leading yang Lebih Disukai COO

Berikut leading indicators yang lebih kuat secara kausal dan lebih relevan bagi pengambil keputusan.

1. Quality of Safety Observations

Bukan berapa banyak, tapi:

  • Persentase observasi yang terkait dengan fatal risk / high energy hazards
  • Rasio observasi perilaku vs kondisi kritis
  • Proporsi observasi dengan rekomendasi teknis, bukan sekadar administratif

Observation berkualitas tinggi memberi sinyal apakah organisasi benar-benar “melihat” risiko serius.

2. Closure Rate Temuan Audit (On-Time & Effective)

Audit tanpa penutupan hanya menciptakan ilusi kontrol. KPI yang bermakna:

  • Persentase temuan high risk yang ditutup tepat waktu
  • Rata-rata waktu penutupan temuan kritis
  • Persentase tindakan korektif yang diverifikasi efektif

Ini langsung berkaitan dengan eksposur risiko residual.

3. Serious Consequence Event (SCE) Compliance

COO jauh lebih peduli pada pencegahan cedera fatal dan kejadian berpotensi katastrofik. KPI yang relevan:

  • Kepatuhan kontrol kritis (critical control verification)
  • Persentase pekerjaan berisiko tinggi yang diawasi sesuai standar
  • Deviasi pada permit to work atau isolasi energi

SCE metrics menggeser fokus dari “cedera ringan” ke “kejadian yang bisa menghentikan operasi”.



Menghubungkan KPI Safety dengan Outcome Bisnis

Inilah bagian yang sering hilang di laporan K3.

Leading indicators harus dikaitkan dengan lagging outcomes seperti:

  • Downtime akibat insiden
  • Biaya investigasi dan perbaikan
  • Kehilangan jam produksi
  • Klaim asuransi dan kompensasi

Contoh logika yang disukai COO:

  • Closure rate temuan high risk turun → eksposur meningkat
  • Eksposur meningkat → probabilitas SCE naik
  • SCE → downtime signifikan + biaya besar

Ketika hubungan ini jelas, diskusi keselamatan berubah dari “kepatuhan” menjadi “manajemen risiko operasional”.



Contoh Dashboard Eksekutif untuk COO

Dashboard eksekutif tidak perlu ramai. Justru harus ringkas dan fokus.

Bagian 1: Risk Signal (Leading)

  • % Critical controls compliant
  • Closure rate temuan high risk (on-time)
  • Quality index safety observations (high risk focused)

Bagian 2: Exposure Trend

  • Jumlah open high-risk findings
  • Trend deviasi pada pekerjaan berisiko tinggi
  • Area/site dengan eksposur tertinggi

Bagian 3: Outcome (Lagging)

  • Downtime akibat insiden (jam)
  • Biaya insiden (direct & indirect)
  • Near miss berpotensi SCE

Bagian 4: Executive Action

  • 3 risiko terbesar bulan ini
  • Konsekuensi bisnis jika tidak ditangani
  • Keputusan yang dibutuhkan dari manajemen

Dashboard seperti ini memposisikan K3 sebagai decision support, bukan sekadar fungsi pelaporan.



Dari Safety Metrics ke Business Metrics

Keselamatan yang disukai COO bukan yang paling banyak angkanya, tapi yang paling jelas dampaknya. Ketika KPI leading benar-benar mencerminkan kualitas kontrol risiko, dan KPI lagging diterjemahkan ke downtime serta biaya, keselamatan berhenti menjadi beban administrasi.

Ia berubah menjadi alat untuk menjaga kelangsungan operasi.