berita PAKKI
https://pakki.org/storage/artikel/244-Cover LSP (1).jpg

Kenapa Banyak KPI K3 Gagal Meyakinkan COO? Memilih Leading & Lagging Indicator yang Benar-Benar Berdampak

Di ruang rapat manajemen, laporan K3 sering tampil lengkap: grafik hijau, angka membaik, tren menurun. Namun tidak jarang, CO...

02 Februari 2026 | Konten ini diproduksi oleh A2K4

Di ruang rapat manajemen, laporan K3 sering tampil lengkap: grafik hijau, angka membaik, tren menurun. Namun tidak jarang, COO tetap mengajukan pertanyaan yang sama setiap bulan: “Jadi, apa artinya ini untuk operasi kita?”

Masalah utamanya bukan minim data, melainkan KPI yang tidak berbicara dalam bahasa bisnis. Terlalu banyak indikator keselamatan yang berhenti di level aktivitas, tanpa menjelaskan implikasinya terhadap downtime, biaya, atau risiko gangguan produksi.

Artikel ini membahas bagaimana menyusun KPI safety yang relevan untuk level COO—dengan menyeimbangkan leading dan lagging indicator, menghindari vanity metrics, serta menghubungkan kinerja K3 dengan outcome operasional.



COO Tidak Mencari Angka Banyak, Tapi Sinyal Risiko

Bagi COO, keselamatan kerja bukan sekadar isu kepatuhan. Ia adalah variabel yang memengaruhi keandalan operasi. Fokus mereka umumnya konsisten pada tiga area utama: kelangsungan produksi, risiko kejadian besar, dan konsekuensi finansial.

Karena itu, KPI K3 yang bernilai di mata COO biasanya memiliki karakteristik berikut:

  • Memberi early warning terhadap potensi gangguan operasi
  • Menunjukkan kualitas pengendalian risiko, bukan sekadar intensitas aktivitas
  • Dapat ditautkan ke kerugian nyata seperti downtime, asset damage, atau biaya insiden

Banyak KPI K3 gagal memenuhi kriteria ini karena terlalu menekankan berapa banyak yang dilakukan, bukan seberapa efektif hasilnya.



Leading dan Lagging Indicator: Definisi Benar, Implementasi Sering Keliru

Secara konsep, pembagian indikator sudah jelas.

Lagging indicator berfungsi sebagai cermin masa lalu, seperti:

  • TRIR atau LTIFR
  • Jumlah fatality
  • Total biaya insiden

Sementara itu, leading indicator seharusnya berfungsi sebagai radar risiko, misalnya:

  • Safety observation
  • Audit dan inspeksi
  • Kepatuhan permit kerja dan pelatihan

Masalah muncul ketika leading indicator hanya diukur dari sisi kuantitas. Saat jumlah observasi naik, audit selesai, dan pelatihan tercapai 100%, KPI terlihat sehat—padahal risiko serius bisa tetap tersembunyi.



Dari Vanity Metrics ke Leading Indicator yang Bermakna

1. Safety Observation: Nilai Ada di Risiko yang Terungkap

Target observasi dalam jumlah besar sering dijadikan simbol budaya safety. Namun bagi COO, angka ini baru berarti jika berhubungan dengan risiko kritikal.

Pendekatan yang lebih relevan adalah:

  • Mengukur proporsi observasi yang terkait aktivitas berisiko tinggi
  • Menilai seberapa sering hazard fatal teridentifikasi (energi, ketinggian, ruang terbatas, lifting)
  • Memantau hazard yang berulang sebagai tanda lemahnya kontrol

KPI seperti high-risk observation rate atau percentage of observations leading to control improvement jauh lebih informatif dibanding total observasi semata.



2. Closure Rate Audit: Closed Belum Tentu Aman

Closure rate sering menjadi KPI favorit karena mudah dilaporkan. Namun tanpa konteks risiko, indikator ini bisa menyesatkan.

Pendekatan yang lebih matang meliputi:

  • Pemisahan antara closure administratif dan closure yang benar-benar menurunkan risiko
  • Penekanan pada temuan berisiko tinggi dan waktu penyelesaiannya

Contoh KPI yang lebih kuat:

  • Persentase temuan critical yang ditutup dalam SLA tertentu
  • Jumlah hari keterlambatan temuan high-risk
  • Tingkat kemunculan ulang temuan pada area yang sama

Bagi COO, temuan yang “closed” tapi muncul kembali adalah sinyal kegagalan sistem.



3. SCE Compliance: KPI yang Langsung Relevan dengan Operasi

Serious Consequence Event (SCE) menjadi titik temu antara keselamatan dan bisnis. KPI berbasis SCE biasanya lebih mudah diterima manajemen puncak karena dampaknya jelas: fatality, kerusakan besar, dan downtime panjang.

Leading indicator berbasis SCE yang bernilai antara lain:

  • Tingkat verifikasi kontrol kritikal pada pekerjaan berisiko tinggi
  • Kepatuhan permit kerja terhadap isolasi energi
  • Hasil audit terhadap life-saving rules

Yang dicari COO bukan sekadar persentase kepatuhan, tetapi pola deviasi dan area yang paling rentan gagal.



Menautkan KPI Safety ke Downtime dan Biaya

Tanpa hubungan ke outcome, KPI K3 akan selalu diposisikan sebagai laporan pendukung. Organisasi yang lebih dewasa mulai membangun safety-to-business linkage.

Beberapa pendekatan yang mulai digunakan:

  • Perhitungan Expected Loss (Probability × Impact) untuk risiko utama
  • Estimasi potensi downtime dari paparan SCE
  • Analisis korelasi antara temuan kritikal yang overdue dengan unplanned shutdown

Tujuannya bukan akurasi absolut, melainkan menyediakan decision signal bagi manajemen.



Dashboard Safety untuk COO: Sedikit, Tapi Tepat Sasaran

Dashboard eksekutif sebaiknya ringkas dan fokus pada risiko prioritas. Idealnya satu halaman.

Elemen utama yang relevan untuk COO:

  • Snapshot paparan risiko (open high-risk findings, tren SCE exposure)
  • Leading indicator berbasis kualitas (high-risk observation rate, overdue critical findings)
  • Dampak aktual terhadap bisnis (downtime, biaya insiden, near miss berpotensi besar)
  • Sinyal eksekutif: area yang memerlukan keputusan atau intervensi manajemen

Dashboard ini bukan alat audit, melainkan alat navigasi.



Penutup: KPI K3 yang Naik Kelas

KPI keselamatan yang matang secara bisnis tidak selalu terlihat “cantik”. Namun justru di situlah nilainya.

Bagi COO, KPI K3 yang relevan adalah yang:

  • Mengungkap risiko sebenarnya
  • Memberi peringatan sebelum gangguan besar terjadi
  • Bisa diterjemahkan ke konsekuensi operasional dan finansial

Ketika KPI safety mampu menjawab pertanyaan tentang downtime, biaya, dan exposure, peran K3 berubah. Bukan lagi sekadar fungsi kepatuhan, tetapi mitra strategis dalam menjaga keberlanjutan operasi.