Di ruang rapat manajemen, laporan K3 sering tampil lengkap: grafik hijau, angka membaik, tren menurun. Namun tidak jarang, COO tetap mengajukan pertanyaan yang sama setiap bulan: “Jadi, apa artinya ini untuk operasi kita?”
Masalah utamanya bukan minim data, melainkan KPI yang tidak berbicara dalam bahasa bisnis. Terlalu banyak indikator keselamatan yang berhenti di level aktivitas, tanpa menjelaskan implikasinya terhadap downtime, biaya, atau risiko gangguan produksi.
Artikel ini membahas bagaimana menyusun KPI safety yang relevan untuk level COO—dengan menyeimbangkan leading dan lagging indicator, menghindari vanity metrics, serta menghubungkan kinerja K3 dengan outcome operasional.
Bagi COO, keselamatan kerja bukan sekadar isu kepatuhan. Ia adalah variabel yang memengaruhi keandalan operasi. Fokus mereka umumnya konsisten pada tiga area utama: kelangsungan produksi, risiko kejadian besar, dan konsekuensi finansial.
Karena itu, KPI K3 yang bernilai di mata COO biasanya memiliki karakteristik berikut:
Banyak KPI K3 gagal memenuhi kriteria ini karena terlalu menekankan berapa banyak yang dilakukan, bukan seberapa efektif hasilnya.
Secara konsep, pembagian indikator sudah jelas.
Lagging indicator berfungsi sebagai cermin masa lalu, seperti:
Sementara itu, leading indicator seharusnya berfungsi sebagai radar risiko, misalnya:
Masalah muncul ketika leading indicator hanya diukur dari sisi kuantitas. Saat jumlah observasi naik, audit selesai, dan pelatihan tercapai 100%, KPI terlihat sehat—padahal risiko serius bisa tetap tersembunyi.
1. Safety Observation: Nilai Ada di Risiko yang Terungkap
Target observasi dalam jumlah besar sering dijadikan simbol budaya safety. Namun bagi COO, angka ini baru berarti jika berhubungan dengan risiko kritikal.
Pendekatan yang lebih relevan adalah:
KPI seperti high-risk observation rate atau percentage of observations leading to control improvement jauh lebih informatif dibanding total observasi semata.
2. Closure Rate Audit: Closed Belum Tentu Aman
Closure rate sering menjadi KPI favorit karena mudah dilaporkan. Namun tanpa konteks risiko, indikator ini bisa menyesatkan.
Pendekatan yang lebih matang meliputi:
Contoh KPI yang lebih kuat:
Bagi COO, temuan yang “closed” tapi muncul kembali adalah sinyal kegagalan sistem.
3. SCE Compliance: KPI yang Langsung Relevan dengan Operasi
Serious Consequence Event (SCE) menjadi titik temu antara keselamatan dan bisnis. KPI berbasis SCE biasanya lebih mudah diterima manajemen puncak karena dampaknya jelas: fatality, kerusakan besar, dan downtime panjang.
Leading indicator berbasis SCE yang bernilai antara lain:
Yang dicari COO bukan sekadar persentase kepatuhan, tetapi pola deviasi dan area yang paling rentan gagal.
Tanpa hubungan ke outcome, KPI K3 akan selalu diposisikan sebagai laporan pendukung. Organisasi yang lebih dewasa mulai membangun safety-to-business linkage.
Beberapa pendekatan yang mulai digunakan:
Tujuannya bukan akurasi absolut, melainkan menyediakan decision signal bagi manajemen.
Dashboard eksekutif sebaiknya ringkas dan fokus pada risiko prioritas. Idealnya satu halaman.
Elemen utama yang relevan untuk COO:
Dashboard ini bukan alat audit, melainkan alat navigasi.
KPI keselamatan yang matang secara bisnis tidak selalu terlihat “cantik”. Namun justru di situlah nilainya.
Bagi COO, KPI K3 yang relevan adalah yang:
Ketika KPI safety mampu menjawab pertanyaan tentang downtime, biaya, dan exposure, peran K3 berubah. Bukan lagi sekadar fungsi kepatuhan, tetapi mitra strategis dalam menjaga keberlanjutan operasi.